Feeds:
Pos
Komentar

Long Time No See

Setelah sekian lama tidak sempat buka blog ini, akhirnya sekarang sempet juga nulis. Hihihi. Bagaimana kabarmu? Kabarku baik-baik saja. Oh tepatnya terlalu sibuk untuk kuliah, ngurus Sheehan, ngurus papanya Sheehan.. Ups..
Dan menekuni hobi baru : bikin kue! Ah.. Pengen juga posting resep-resep di sini.
🙂

Iklan

Curcol alias curhat colongan nih. Hehe. Ntah kenapa, aku gampang banget sedih. Denger berita ga ngenakin hati, sedih. Tau kenyataan yang pahit, sedih juga. Lagi boke, sedih. Lagi badmood, sedih. Hiks hiks.

Aku ini type orang yang pemikir. Ada masalah kecil, mikirnya lama dan panjang! Seakan-akan itu adalah problem yang berat ( like my husband’s said ). Bisa jadi, ya memang seperti itu. Lebay ya.

Oke lah, seperti judul posting kali ini, “Sedihlah seperlunya saja, bahagialah selamanya” emang penting, bo. Kenapa? Karena ketika kamu sedih, orang disekelilingmu pun ikut sedih. Jika kamu bahagia, mereka pasti juga bahagia. So, lebih berguna mana, membuat orang sedih ato bahagia?

Aku punya tips dan trik nih, untuk bikin kita bahagia walau ada masalah :

1. Menangis. Ya, menangislah sepuasnya! Why? Karena ketika kita menangis, seluruh perasaan akan tumpah semua. Meledak-ledak gitu deh. Jangan lupa, siapin tissue yang banyak untuk ngelap apa yang perlu dilap.

2. Curhat. Memang ga baik sebenernya, cerita or mengumbar masalah kita ke orang lain. Tapi, itu juga merupakan cara efektif untuk menghilangkan setidaknya mengurangi kesedihan. Kalo udah cerita, beban kita pasti sedikit berkurang. Misal, curhat ke temen ato sahabat. Nah, pasti mereka akan memberi saran dan juga menghibur kita.

3. Mendengarkan musik. Ini juga cara ampuh. Tapi musiknya musik yang temponya keras ya. Jangan musik yang lagunya mellow-mellow. Bikin kita lebih  menghayati sedihnya.

4. Jalan-jalan. Ke mall liat barang-barang bagus, ato jalan-jalan ke tempat wisata juga bisa. Bareng keluarga atau teman. Wuih, pasti seru tuh.

5. Nonton film. Liat pemain film yang ‘bening-bening’ bisa membuat hati ‘swing-swing’ loh.

6. Tersenyum. Sambil di depan cermin, cobalah tersenyum. Hapus air mata yang berlinangan. Tersenyumlah selama beberapa saat. Ingat, jangan ketawa cekikikan sendirian loh ya. Nanti disangka gila lagi.

 

Nah, mudah kan caranya? Makanya, mari kita hilangkan kesedihan!

Liburan semester, di rumah saja. Tapi gag membuat aku kesepian. Cuz i’ve someone who make my live so happy : my baby boy, off course. Lumayan, sekitar sebulan di rumah bareng trus. Jadi bisa ngeliat perkembangannya. Udah mulai cerewet, bisa marah kalo dicuekin, nangis kalo papanya kerja gag pamit, de-el-el. Satu hal yang gag slalu buat aku bahagia ya ketawanya, senyumnya. Hihi. Kalo ketawa lebar banget! Pamer gigi ompongnya kali, yaaa… 🙂

Belum lagi anakku yang satu ini suka eksis di depan kamera. Dia juga suka ngeliat foto-fotonya di hape. Wah, aku banget deh, eksisnya. Untuk anak seumuran Sheehan sih masi jarang kayaknya yang ngeliat kamera pas difoto. Sadar kamera gitu…..

Badannya yang ndut, pipinya yang tembem, lesung pipinya yang ilang karena ‘kerendem’ sama pipinya, trus idungnya yang seharusnya mancung ikut ketarik juga sama kedua pipinya itu (semua masalah berawal dari ndut n pipi), justru ngebuat aku makin cinta sama Sheehan…

Nih ada beberapa pict. bukti eksisnya Sheehan..

ngguyu

Sheehan ketawa sendiri

Ungkapan yang tepat! Usia Sheehan udah 2 bulan. Wah, senangnya bisa mengikuti seluruh perkembangannya. Mulai dari ngoceh, teriak, ngomel, nangis, ketawa ceikikan, sampe ngangkat kepala ketika ditengkurapkan. Hihihi. Belum lagi liat kepalanya yang botak. Yah, walaupun sudah ada rambut yang tumbuh sedikit demi sedikit. Tetep aja lucu!

 

Make me smile with your smile…

Adelino Sheehan Prabaswara

Sheehan ndud

 

14 November 2010

Yesterday…

Heran aku, kenapa sih banyak orang yang terlalu ikut campur dan sok bijak dalam masalahku? Hanya karena update status Facebook, yang menurutku sih terserah aku apa yang aku tuliskan yang penting bukan menjelekkan mereka. Jujur, aku risih dengan reaksi mereka. Tau apa mereka tentang aku? Kehidupanku? Masalahku? Deritaku??? Mereka hanya melihat di satu sisi, di mana aku yang ‘menjajah’, bukan aku yang ‘dijajah’. Yah, itu laki-laki. Lain dengan perempuan. Alhamdulillah mereka memberiku support untuk sabar, tabah, dan ikhlas.

Mereka seharusnya bertanya, “kenapa aku sampai menulis seperti itu?”

Yang mereka pikirkan hanya perbuatanku salah, tanpa mau tau penyebab aku melakukan itu.

Hhhhh…

Padahal aku gag pernah tuh riweuh dengan kehidupan mereka. Karena aku juga gag suka ada orang yang riweuh dengan kehidupanku.

***

Persepsi setiap orang memang berbeda. Dan akibat dari status yang aku tulis, terpaksa aku menutup akun Facebookku. Eman-eman padahal. Di sana ada teman-temanku, dari SD sampai teman kampus.

OK lah, kita buat Facebook lagi. Mumpung GRATISSSSSS

 

Jangan usik kehidupanku, karena aku gag akan ngusik kehidupanmu